Keteladanan Kartini Pejuang "Emansipasi Wanita" - @infounpas
contact@infounpas.com 087823327307
Keteladanan Kartini Pejuang “Emansipasi Wanita”
April 21, 2017
0

Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879, dan meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun. Raden Adjeng Kartini sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia.

Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi dan oleh pemerintah Indonesia, ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional pada tahun 1964. Sementara hari lahirnya ditetapkan sebagai Hari Kartini. Sudah menjadi budaya, selama 52 tahun, Hari Kartini, di berbagai daerah diperingati dengan cara menggunakan baju adat daerah-daerah yang ada di Indonesia. Apakah ada relasi antara baju adat dan perjuangan RA Kartini itu sendiri?

Kalau hanya memperingati kebaya yang dipakai RA Kartini juga tak punya makna apa-apa, karena tidak ada makna sejarah, makna politik ataupun makna apapun juga. Lagipula, bukan orang Jawa saja yang memakai kebaya. Suku-suku lain juga memakai kebaya. Kalau suku-suku lain harus memperingati hari Kartini dengan memakai kebaya Jawa, tentu tidak relevan. Sebaliknya, kalau suku-suku non-Jawa harus memakai kebaya daerah masing-masing, juga tidak relevan. Kalau hanya wanita Jawa saja yang memperingati Hari Kartini dan berkebaya Jawa, tentu tidak nasionalis.

Kebaya merupakan wilayah Logika Budaya. Lalu apa bedanya Hari kartini dengan Hari Ibu?

Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuran. Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dhien, Tjoet Nyak Meutia, RA Kartini, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan lain-lain.

Kalau mau jujur, antara tanggal lahir RA Kartini dengan perjuangan emansipasi yang diperjuangkan RA Kartini, tentu tidak ada relevansinya. Seharusnya, tanggal tertentu yang ada nilai sejarahnya, seperti halnya Hari Ibu yang ditetapkan sesuai diselenggarakannya Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Artinya, 21 April adalah hari kelahiran RA Kartini dan bukan peristiwa sejarah.

Namun, bangsa ini telah menetapkan tanggal 21 April adalah Hari Kartini.

Yang lebih penting dan harus dipahami oleh seluruh masyarakat bangsa ini adalah, esensi Hari Kartini adalah perjuangan emansipasi wanita. di bidang pendidikan dan dalam hal-hak untuk menentukan jodohnya sendiri, tidak ingin dipingit. Perjuangan ini tidak hanya untuk kepentingan RA Kartini sendiri, melainkan bagi kepentingan seluruh wanita Indonesia. Wilayah logikanya adalah Logika Emansipasi.

Kini, bangsa Indonesia sangat butuh RA Kartini baru, mengingat permasalahan yang sedang dihadapi dan perlu solusi. Untuk mencapai itu, spirit dari peringatan Hari Kartini tentunya kita harus mengenal sosok Kartini dengan kepribadian dan keteladanannya yang bisa kita ambil sebagai panutan seperti:

1) Sosok yang merakyat. Sifat RA Kartini yang tidak senang disembah dan diagungkan selayaknya seorang bangsawan lainnya. Hatinya lekat kepada rakyat walaupun dia adalah seorang bangsawan tetapi ia tidak gila akan derajat itu. Bahkan RA Kartini akan merasa amat sedih jika ada seorang bangsawan yang menggunakan tingkat kebangsawanannya untuk kepentingan diri sendiri dan merugikan orang lain.

2) RA Kartini merupakan sosok pengasih. Sifat kasih sayangnya ditujukan kepada anak–anak perempuan didiknya, terbukti dengan ungkapannya kepada Ny Abendanon 8 Agustus 1903 yang menyebutkan “ Moga-moga saya diperbolehkan memangku anak-anak itu dan saya akan mengasihi anak-anak itu”.

3). Menghormati orangtua. Walapun memiliki pemikiran sendiri, RA Kartini tetap menghormati kepustusan orangtuanya. Salah satu buktinya ia menuruti permintaan orangtuanya untuk tidak melanjutkan sekolah. Baginya bila menuruti kata hatinya, itu berarti merusakkan hati orangtuanya.

4). Sederhana dan Rajin. Dengan pandangannya yang tidak memperdulikan status RA Kartini mudah bergaul dengan siapa saja dan tetap menjalani hidup sederhana walapun merupakan anak seorang bangsawan. Terbukti saat pernikahannya walapun menikah dengan sesama bangsawan, RA Kartini memilih tidak mengadakan pesta dan bahkan tidak memakai pakaian pengantin. Baginya hidup dalam kesederhanaan, kehematan akan mencegah kesengsaraan di masa mendatang. RA KArtini juga termasuk sosok yang rajin, walapun dia tidak bersekolah tetapi semangat belajarnya masih tinggi dengan membaca buku dan Koran.

5) Selalu optimis dan melihat ke depan. Ketika orang memandang suatu cita-cita dengan segala keadaan yang baik dan tidak berburuk sangka, tidak mudah lemah akan cita-citanya, maka RA Kartini percaya cita-cita tersebut akan dapat tercapai. Beliau orang yang selalu mengagung-agungkan masa silamnya dan puas dengan pencapaiannya dulu, karena mereka yang mempunyai sifat seperti itu seakan puas dengan hanya membanggakan nenek moyang zaman dahulu.

6) Keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan akhlaq. Bukan hanya ilmu pengetahuan yang penting bagi RA Kartini, namun kecerdasan berpikir dan kecerdasan budi harus sama-sama dimajukan. Bagi Kartini yang juga merupakan seorang pendidik, tugas pendidik belum usai jika hanya mencerdaskan pikiran saja, ia harus mendidik budi atau akhlaq muridnya.

Sifat-sifat teladan RA Kartini sekarang ini, memang sudah mulai sulit ditemukan, sudah terkikis oleh zaman. Tidak pula, ada yang perlu disalahkan untuk fenomena ini. Siapa mau meniru keteladanan RA Kartini? Mulailah dari diri kita sendiri.